BAN-PT Janjikan Proses Akreditasi 25 Jam Beres

Jakarta: Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) yang baru saja diluncurkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) diklaim dapat memangkas masa pengurusan akreditasi.  Rentang waktu menunggu proses penyerahan Surat Keputusan Sertifikat Akreditasi berkurang signifikan, dari semula dua bulan menjadi 25 jam saja.
Dengan pemanfaatan teknologi, penyerahan SK Sertifikasi Akreditasi yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat memakan waktu sampai dua bulan, saat ini dapat dipangkas waktunya menjadi 25 jam.  “Dan kemungkinan adanya pemalsuan juga sangat kecil, karena adanya tanda tangan elektronik dan kode batang (barcode) pada sertifikat yang diterbitkan,” ungkap Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT Tjan Basaruddin, dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, di Jakarta, Jumat, 27 Juli 2018.
Tjan menambahkan bahwa BAN-PT terus berupaya meningkatkan pelayanan terhadap publik. Salah satu terobosan yang dilakukan BAN-PT adalah dengan penyerahan SK Sertifikasi Akreditasi yang saat ini dilakukan secara online.
BAN-PT meluncurkan Instrumen Akreditasi yang disebut IAPS 4.0 (Instrumen Akreditasi Program Studi Berbasis Outcome).   Sesuai dengan Permenristekdikti No 32/2016,  BAN PT dituntut mengembangkan instrumen akreditasi yang relevan, dengan pengembangan sektor pendidikan tinggi di Indonesia dan mengikuti perkembangan global.
Baca: Kini Sertifikat Akreditasi Tidak Perlu Dilegalisir
Tjan menambahkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat ke berbagai instansi yang menyatakan bahwa sejak diterapkannya Tanda Tangan Elektronik pada Sertifikat Akreditasi, maka tidak perlu lagi dilakukan legalisir sertifikat. Karena pengecekan keabsahan sertifikat dapat langsung dilakukan dengan ‘barcode’ yang ada di sertifikat yang nanti terhubung langsung ke laman BAN-PT.
BAN-PT meluncurkan Instrumen Akreditasi yang disebut IAPS 4.0 (Instrumen Akreditasi Program Studi Berbasis Outcome).   Sesuai dengan Permenristekdikti No 32/2016,  BAN PT dituntut mengembangkan instrumen akreditasi yang relevan, dengan pengembangan sektor pendidikan tinggi di Indonesia dan mengikuti perkembangan global.
Tjan mengatakan, instrumen APT harus dikembangkan dengan memperhatikan model pengelolaan perguruan tinggi dan misi institusi yang tercermin dari program akademik. Karena itu dia menjamin, instrumen APT akan lebih responsif dengan perkembangan zaman.
“Instrumen APT berorientasi pada output dan outcome, sedangkan yang sebelumnya, lebih banyak mengukur aspek input,” terang Tjan.
Sebagai ilustrasi, jika pada instrumen sebelumnya kita menilai jumlah mahasiswa dan jumlah lulusan (input) dan bagaimana proses belajarnya.  Maka pada instrumen yang baru ini juga akan diukur lama masa tunggu lulusan sebelum dapat bekerja (output), dan seberapa besar kontribusi lulusan terhadap tempat dia bekerja (outcome).
Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti, Kemenristekdikti, Patdono Suwignjo pada kesempatan tersebut juga turut mengapresiasi kinerja BAN-PT yang terus melakukan perbaikan-perbaikan.  Langkah tersebut, kata Patdono, mempermudah pencapaian sasaran strategi Kemenristekdikti yang menempatkan mutu sebagai salah satu sasaran utama.
“Cara paling mudah untuk melihat mutu sebuah perguruan tinggi adalah dari akreditasinya,” kata Patdono.
Dengan adanya penerapan instrumen yang baru ini, Patdono menilai akan sangat membantu pengguna lulusan perguruan tinggi, karena yang dinilai bukan hanya input dan proses namun juga output dan outcome. Patdono pada kesempatan ini juga mengingatkan bahwa BAN-PT masih ada pekerjaan rumah untuk menyusun instrumen yang tepat untuk menilai pendidikan vokasi.
Menurut Patdono, pendidikan vokasi tidak bisa disamakan dengan pendidikan akademik.  “Kami berharap BAN-PT ke depannya melibatkan dunia industri saat melakukan akreditasi pendidikan vokasi,” tutup Patdono.
 
Sumber : Klik

Leave a Reply